Archive for February, 2008
Guru Koq Nyontek?? Malu dong ….
Beberapa hari yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mengikuti test untuk menjadi guru pembimbing siswa yang akan mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2008. Test ini diikuti lebih dari 100 orang bapak dan ibu guru Matematika, Fisika dan Biologi untuk wilayah (kalau tidak salah) Tangerang dan Banten. Selain itu para siswa pun diseleksi mewakili sekolah masing-masing untuk mengikuti pelatihan OSN yang diadakan Institut Pertanian Bogor.
Kebetulan waktu itu ruangan test untuk guru matematika dan biologi digabung dengan perbandingan jumlah guru matematika dan biologi sama dengan 3 : 2 sedangkan jumlah kursi yang disediakan ada 20 kursi. Pertanyaannya adalah berapa jumlah guru matematika yang hadir?? (eh, maaf koq saya jd nulis soal ya…?)
Ternyata banyak hal-hal menarik yang saya temui ketika mengikuti pertemuan yang di dalamnya banyak berkumpul para guru. Salah satunya adalah ternyata (tapi jgn bilang siapa-siapa ya…?) guru-guru kalau sudah ngumpul tidak kalah rame’nya dengan siswa. Ada yang ngobrol, ada yang sibuk sendiri-sendiri, tapi ada juga lho yang memperhatikan pembicara. Dari situ saya berpikir, ya wajar saja kalo anak-anak di kelas rame’, orang gurunya aja kalo ngumpul juga rame. Buah tidak akan jatuh jauh-jauh dari pohonnya.
Funny Question
Back to my story…. Ketika semua sudah siap dan soal sudah dibagikan, tiba-tiba saja ada seorang guru bertanya kepada pengawas test. “Pak, ngerjainnya boleh pake’ kalkulator ngga’?” si pengawas lantas menjawab “Yah ibu pake’ nanya segala, emang kalo anak-anak ibu lg ulangan ibu ngebolehin pake kalkulator?”. “Ngga’ Pak” jawab si ibu guru. “Ya udah jawaban saya sama kaya’ jawaban ibu tadi”. Beberapa guru tersenyum mendengar pertanyaan ibu guru tadi. Termasuk saya.
Wah, ternyata guru-guru kalo ditest juga merasa butuh pake alat bantu kalkulator ya..? Ngga’ apa-apa ya Bu… namanya juga usaha. Siapa tau aja boleh.
Ujian adalah Keniscayaan
Ketika saya ditunjuk untuk menjadi salah seorang wakil dari sekolah tempat saya mengajar, terus terang saya sangat gembira. Ini merupakan kesempatan saya untuk meraih peluang meningkatkan kompetensi diri saya. Plus, sudah lama saya tidak megikuti ujian-ujian. Kan katanya kalo’ kita ingin naik derajat (bukan naikin pak sudrajat lho…), kita harus melewati ujian. Seperti halnya kalau kita sedang diuji oleh Allah SWT, kalau kita berhasil melewatinya dengan baik, maka pasti derajat keimanan dan ketaqwaan kita kepadaNya akan meningkat. Ujian adalah suatu keniscayaan.
Mengikuti test semacam ini mengingatkan saya ketika masih sekolah dulu. Waktu masih SMP dan SMA dulu saya tuh termasuk orang yang pelit. Maksudnya kalo sedang ulangan saya ngga’ pernah (eh, pernah ngga’ ya?) ngasih contekan ke teman-teman saya. Kalo ada teman saya yang nanya, saya cuekin aja. Kira-kira bener ngga’ sih yg saya lakuin?
Nah, hubungannya sama test yang saya ikuti itu adalah …… (jangan kaget ya?) …. ( tapi kaya’nya sih ngga’ bakal kaget) …. (kan udah ada judulnya diatas) ……
Ternyata guru-guru kalo lagi ditest juga ada yang contek-contekan !??!!????!?!?!?!?!?!?
(tapi tidak semua lho…..) Wah..wah..wah… Weleh..weleh…weleh…( kata Si Komo)
Malahan ada yang secara terang-terangan (padahal ada pengawasnya) bertanya dengan guru yang lain. Lalu apa pengawasnya menegur?? Si pengawas hanya bisa bilang “Pak…Bu… kerjakan aja sebisanya. Kalo’ saling bertanya dan semuanya benar, nanti panitia bingung memilih pemenangnya.”
Terus terang (Terang terus), melihat kenyataan ini saya sangat kaget dan sedih (hiks…hiks…) Tapi dalam hati kecil saya ada sedikit rasa maklum. Maksudnya adalah soal-soal yang diberikan memang sangat berbobot sedangkan rekan-rekan guru yang mengikuti test rata-rata sudah berumur diatas 30 thn. Bagi saya yang masih “muda” mungkin saya masih bisa mengerjakan dengan otak saya sendiri. Tapi bagi mereka? Saya pikir di usia mereka sekarang, mereka lebih terfokus pada masalah-masalah keluarga mereka. Pergaulan anak-anak mereka, Pinjaman Bank yang belum lunas, Cicilan mobil masih lama, Istri yang lebih senang curhat (baca: ngegosip) sama tetangga, Suami yg lagi puber ke-3, dan lain sebagainya…
Tapi apakah itu semua bisa menjadi alasan untuk menodai profesi kita sebagai Guru?? Silakan bertanya pada diri kita sendiri….
Sekali lagi ini adalah kenyataan.
Kalau begitu wajar aja anak-anak didik kita nyontek ketika ulangan. La Wong gurunya juga begitu. Iya ngga’ sih….. ?
Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari (Asal jangan dicelana aja,..!)
============================================================================
Jika Anda terinspirasi dengan tulisan-tulisan saya di blog ini dan ingin mengutip/ menyadur sebagian atau seluruh isi tulisan saya, maka saya akan sangat bahagia sekali jika Anda mengirimkan e-mail permohonan ijin terlebih dahulu ke ajw_nfbs@yahoo.com . Serta mencantumkan nama penulis dan ng-link blog ini. Tidak diperkenankan mengambil tulisan saya untuk kepentingan bisnis dan komersil (kecuali ada perjanjian dengan saya). Sedangkan jika digunakan untuk kemaslahatan umat manusia, boleh-boleh saja asalkan mencantumkan sumber dan mengirimkan e-mail dulu.
============================================================================
Add comment February 9, 2008
Melebihi Amalan Sahabat Umar dan Abu Bakar RA
Pagi tadi ada tausiah dari Ust Hafidz di waktu apel pagi. Ternyata di sekolah kami ada santri tholibah yang amalannya ‘melebihi’ Sahabat Umar dan Abu Bakar dalam hal berinfaq. Memang beberapa waktu lalu di sekolah kami sedang gencar-gencarnya melaksanakan program infaq. Bahkan besar minimal infaqnya pun di batasi (lho koq gitu… ?). Dalam hati kecilnya sebenarnya saya tidak setuju kalo besarnya infaq dibatasi. Tapi saya mencoba untuk berkhusnudzon. Mungkin dengan cara ini saya bisa lebih teratur dalam berinfaq. Karena sesungguhnya di dalam harta kita terdapat haknya orang-orang yang kurang mampu.
Kembali ke cerita saya tadi. Di dalam sirah dikisahkan Sahabar Umar menginfaqkan separuh dari hartanya untuk berjihad di jalan Allah sedangkan Sahabat Abu Bakar tidak tanggung-tanggung, ia menginfaqkan seluruh hartanya. Nah, ternyata di sekolah kami ada seorang tholibah (santri wanita) yang ia menginfaqkan seluruh uang tabungannya plus ngutang Rp. 5000 . Dengan kata lain, seluruh tabungannya habis diinfaqkan dan ia juga berhutang kepada wali asramanya untuk berinfaq. Sungguh di luar dugaan. Mungkin bagi orang biasa tidak terpikir untuk berhutang agar bisa berinfaq.
Ceritanya belum selesai. Setelah wali asramanya mengecek berapa sih jumlah tabungan anak tadi. Barulah ketahuan mengapa ia bisa berpikir untuk ngutang. Ternyata setelah di cek, jumlah tabungannya hanya tiga ribu rupiah. Ooooo…jadi wajar kali ya ia berhutang karena jumlah tabungannya cuma segitu.
But Anyway… kita harus menghargai ketulusan hati si tholibah tadi. Kan dalam berinfaq yang penting adalah niat dan keikhlasannya. Buat apa infaq banyak kalo’ hanya ingin di bilang dermawan. Itu mah namanya riya’. Mendingan sedikit tapinya kita ikhlas. Tul ga’….????
============================================================================
Jika Anda terinspirasi dengan tulisan-tulisan saya di blog ini dan ingin mengutip/ menyadur sebagian atau seluruh isi tulisan saya, maka saya akan sangat bahagia sekali jika Anda mengirimkan e-mail permohonan ijin terlebih dahulu ke ajw_nfbs@yahoo.com . Serta mencantumkan nama penulis dan ng-link blog ini. Tidak diperkenankan mengambil tulisan saya untuk kepentingan bisnis dan komersil (kecuali ada perjanjian dengan saya). Sedangkan jika digunakan untuk kemaslahatan umat manusia, boleh-boleh saja asalkan mencantumkan sumber dan mengirimkan e-mail dulu.
============================================================================
Add comment February 9, 2008